Kisah Usai Yang Tak Pernah Dimulai

Bab 2 : Rencana
By : Sandyakala (with N.)

Anak? Apa-apaan ini semua?. Suasana menjadi sangat hening dan rasanya hawa sekitar ruangan ini mulai tegang. Aku mematung dengan raut wajahku yang terheran-heran dengan apa yang baru saja dikatakan Mira.

"Kamu jangan bohong Mira."

"Aku gak bohong mas! Anak yang aku impikan sejak dari lama dengan sesaat hancur mas.."

Mira mengandung anak Aldi?. Tetapi sungguh, melihat wajah cantik yang sendu itu membuatku menjadi percaya atas apa yang Mira baru saja katakan.

"Se-sejak ... Sejak kapan kamu mengandung anaknya?," 

"Sejak 2 bulan yang lalu... Dimulai saat kami berlibur ke pantai berdua. Aku tahu perbuatan kami salah, Mas! Tapi apa pantas Mas Aldi membunuh anaknya sendiri?"

Mira mulai menangis tak sanggup menahan air matanya, aku yang melihat nya pun ikut sedih dan mencoba meraihnya mendekat kepadaku.

Aku menepuk-nepuk punggung Mira mencoba menenangkannya, tak lama pintu kembali terbuka menampilkan ibu dengan amplop yang berada di tangannya. Aku dan Mira yang menyadari ibu datang, segera menjauh satu sama lain. Mira juga mengambil tisu untuk menghapus air mata yang keluar.

"Hasilnya sudah keluar, dokter bilang kamu keracunan. Kamu makan apa sih Bayu?!," ibu datang tiba-tiba mengomeliku.

Aku melirik ke arah Mira yang kini pura-pura memasang wajah terkejutnya, "Lupa Bu, Bayu kan pingsan," jawabku.

"Untung aja kamu selamat!" 

"Mungkin Mas Bayu beli sesuatu di luar?," tanya Mira, pura-pura.

"Iyadeh kayanya, aku lupa Mir, sudah dong Bu, Mira, aku mau pulang mau istirahat. Aku langsung sudah boleh pulang kan Bu?," tanyaku.

"Iya kamu langsung pulang aja sana istirahat, ibu mau tebus obat dulu. Nak mira, bisa minta tolong antar anak ibu pulang?," ujar Ibu.

"Loh kenapa ga bareng saja Bu?," kataku.

"Ga usah, takut lama kasian kamu. Kamu langsung pulang saja."

Singkat cerita aku pulang dengan Mira terlebih dahulu, Mira membantu membopong ku sampai kamar.

"Mir, aku masih butuh penjelasan kamu soal tadi, kamu serius mau bunuh Aldi? Mir, kamu ga mau pikir lagi?"

"Iya mas aku yakin, aku terima semua konsekuensinya. Laki-laki itu ga pantas untuk hidup."

"Lalu kenapa kamu bertunangan sama dia?"

"Karena dengan cara itu aku melangkah lebih dekat dengan dia dan lebih mudah untuk membunuhnya."

Aku benar-benar tak tahu lagi harus berkata apa, Mira dan tekadnya sudah tak bisa ditentang lagi. Aku bingung harus apa sekarang.

Aku mencoba menjelaskannya pelan-pelan tentang semua hal yang akan terjadi jika kami melakukan rencana pembunuhan ini. Jujur aku tidak ingin terlibat tapi....

"Mas, kamu mencintaiku kan?." deg. Jadi Mira tahu kalau aku mencintainya. Aku diam, pikiranku mendadak kacau.

"Mari kita hidup bahagia bersama setelah selesai semuanya, karena aku juga mencintaimu," lanjut Mira.

Perasaan ini... Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Senang? Ya... Tapi entah mengapa rasanya perasaan ini mengganjal. Semua kejadian ini, pernyataan-pernyataan yang Mira keluarkan, emosiku tercampur aduk olehnya.

Setelah berbincang sebentar, aku menyuruh Mira agar kembali ke rumahnya. Aku sangat membutuhkan istirahat setelah melewati kejadian yang begitu rumit hari ini. Keesokan harinya, Mira datang kembali ke rumahku untuk membicarakan rencananya yang sangat serius, yakni tentang niatnya untuk membunuh Aldi. 

Aku segera membawa Mira ke kamar, Mira bilang ia ingin membicarakan rencana pembunuhannya itu, beruntung ibu dan Asih sudah pergi.

Mira membawa buku di tangannya lalu mulai menjelaskan padaku beberapa rencana yang ia buat. Mira berencana ingin membunuh Aldi ketika malam pertama mereka.

Aku hanya mendengarkan Mira, pikiranku terus bertanya apakah benar yang di depanku ini adalah Mira pujaan hatiku sejak kami kecil? Apa benar ia adalah gadis manis yang sering tersenyum? Apa benar, apa benar, apa benar, pertanyaan itu terus memutar kepalaku.

Mira berhenti bicara, mungkin ia sadar kalau aku tidak begitu memperhatikannya, ia berdiri mengambil sesuatu di tas yang ia bawa.

"Mas, untuk kamu," ujar Mira seraya menyerahkan sebuah kertas yang terbungkus padaku. Itu sebuah kertas undangan bertuliskan Mira dan Aldi di sana.

Aku terpaku dengan undangan di tanganku sampai sentuhan Mira di pundakku membuyarkan lamunanku. Mira mendekat padaku lalu duduk di sampingku, ia menggenggam tanganku dan berkata,

"Mas, ini hanya pura-pura. Aku tidak benar-benar mencintainya. Seperti kataku, setelah selesai semuanya, kita akan hidup bersama bahagia."

"Mira, tindakan kamu itu sebuah kejahatan, ayo kita pergi saja dan menikah. Kamu bilang kamu mencintaiku kan? Aku pastikan kamu akan bahagia denganku dan melupakan semuanya."

Plakk. Mira baru saja menamparku, pipiku terasa panas sekali. Aku melihat wajah wanita di depanku, matanya melotot marah.

"Jika kamu tidak bersedia membantu, aku bisa melakukannya sendiri!!," kata Mira dengan nada tinggi lalu keluar dari kamarku.

Aku menatap kepergiannya dari balkon kamarku. Untung saja hari ini tidak ada orang di rumah. Jujur saja aku tak rela kehilangannya lagi, baru saja kemarin ia mengatakan bahwa mencintaiku, mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan seperti itu.

Tapi yang Mira inginkan adalah masalah yang serius, banyak yang harus dipikirkan. Tidak hanya kepuasan membalas dendam saja, tapi akibat yang terjadi setelahnya bahkan lebih buruk jika tertangkap.

Aku ingin sekali menariknya dari kegelapan sana, membawanya padaku dan merengkuh tubuh yang dipenuhi perasaan amarah itu. Aku tidak ingin sosok Mira yang kukenal hilang, Mira yang sekarang, aku sama sekali tak mengenalnya.

Aku menerima ia apa adanya bahkan ketika aku tahu kalau dia sudah bermain dengan pria lain dan ketika aku tahu bahwa pernah ada janin di sana. Aku sama sekali tidak peduli. Aku benar-benar mencintainya.

Aku mencintainya lebih dari apapun, aku mencintainya ketika pertama kali aku bertatap dengannya saat aku menolongnya yang terjatuh dari sepeda. Hatiku tidak pernah terisi orang lain selain dia, hanya Mira.

Sudah sebulan semenjak aku dan Mira merencanakan pembunuhan terhadap Aldi. Aku tidak yakin.. tetapi Mira terus memaksaku untuk membantunya berfikir rencana yang pas untuk nanti.

Hari ini, hari pernikahan Mira dan Aldi. Tentu saja aku datang ke pernikahan mereka hanya untuk formalitas, tawa dan senyum bahagia dari banyak orang yang merayakan pernikahan hari ini. Mira dengan topengnya tampak ramah didepan semua orang dan selalu bertindak manja dan bahagia bersama Aldi yang notabe nya sudah menjadi suami sah Mira.

Yah... Aku merasakan dada yang sesak saat melihat itu. Sejenak aku teringat bahwa senyuman sementara di hari besar pernikahan ini akan lenyap malam nanti. 

Mira dan Aldi merayakan pesta pernikahan nya di hotel yang lumayan kelas atas dengan segala kemewahannya. Mereka akan melakukan malam pertamanya di hotel ini, keluarga dari masing-masing pasangan pun memilih untuk ikut menginap semalam di hotel ini. 

Bagaimana dengan diriku? Tentu saja Mira menyuruhku tuk ikut menginap di hotel ini bahkan ia membayar kamarnya. Tanpa diketahui oleh keluarga nya. 

Hari mulai menggelap, dan sekarang pukul 11 malam. Aku duduk ditepi kasur sambil memikirkan rencana yang akan dilakukan sebentar lagi. Ku cek handphone ku tuk melihat apakah ada notifikasi chat dari Mira atau tidak. Tak lama kemudian Handphone ku berbunyi dan menampakkan chat dari Mira yang menyuruhku untuk bersiap-siap keluar dari kamar hotelku.

Rencana ini dimulai saat Mira mulai memesan teh hangat dari pelayan hotel untuk suaminya, Aldi. Aku memang tidak banyak melakukan hal, yang perlu kulakukan hanyalah memastikan dan berjaga-jaga jika terjadi sesuatu diluar kendali di kamar hotel Mira dan Aldi.

Saat ku buka pintu kamar hotelku dan keluar, aku segera menuju kamar hotel Mira yang tidak jauh dari milikku. Dan benar saja sudah ada pelayan hotel didepan pintu kamar hotel itu untuk menyerahkan teh yang Mira pesan.

Aku tidak langsung menghampiri kesana, aku bersembunyi di balik tembok dekat lift hotel menunggu pelayan itu selesai melakukan pekerjaannya.

Tidak lama pelayan hotel tersebut berbalik badan dan meninggalkan kamar hotel milik Mira dan Aldi, tentu saja aksi pembunuhan ini sebentar lagi terjadi. Aku segera berjalan cepat menghampiri Mira yang berada pas di pintu kamar hotelnya sembari memegang nampan berisi dua cangkir teh hangat. Dengan tatapan serius dan senyuman tipis yang memesona, Mira menatapku. Begitu memikat, senyumnya mengundang senyuman dari bibirku, sementara tatapannya meyakinkanku tentang kepastian rencana yang akan kami jalani. Dari kejauhan, kami saling bertatapan, saling menguatkan satu sama lain, siap menghadapi apa pun yang akan datang.


Bersambung......


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Usai Yang Tak Pernah Dimulai

Antara Aku, Kau dan Meikarta

Fabian