Antara Aku, Kau dan Meikarta
Chapter 2. Manis
By : Sandyakala
Seminggu berlalu sejak masa-masa suram berakhir. Kini para peserta acara tersebut kembali menjalani aktivitas biasa mereka, sekolah, main, membuat kenangan masa-masa SMA mereka, dan lainnya.
Seperti yang lainnya, saat ini Sabil sedang dalam perjalanan ke tempat ia dan teman-temannya janji untuk bertemu, dengan mengendarai beat merah kesayangannya Sabil sesekali tertawa karena lelucon yang dilontarkan Maya.
"May, ini masih jauh?," tanya Sabil setengah berteriak dengan pandangan fokus ke depan mengendarai motor.
"Itu yang plang bacaan Cafe Mimi di depan. Lah onoh si Laura tuh," jawab May, tangannya terangkat menunjuk depan.
Sabil menepikan motornya menghampiri temnnya. "Langsung parkir aja sab, yang lain udah masuk," ujar Laura, Sabil mengangguk lalu memarkirkan motornya.
Ketiga perempuan itu berjalan menghampiri temannya yang lain. "Itu tuh yang lain di luar, eh udah dapat tempat duduk juga," kata Maya sambil menarik tangan Sabil menyusul Laura yang sudah berlari.
Di sana sudah ada Pepen dan Fitria, Sabil menaruh tas selempang yang ia bawa di atas meja lalu mendudukkan dirinya di samping Maya. Sabil memperhatikan sekitar ternyata orang yang datang tak seperti yang Maya bicarakan, di sana hanya ada lima orang termasuk Sabil, Maya, Laura, Fitria dan Pepen, Maya bilang ada enam orang.
Tiba-tiba seorang laki-laki datang lalu duduk di depan Sabil bergabung dengan yang lainnya."Ga telat banget kan gua?," kata laki-laki yang baru saja datang itu.
"Baru mau gua telepon lu," ujar Pepen, laki-laki yang Sabil tak kenal itu menanggapinya dengan senyum. Benar, Sabil tidak tau laki-laki yang duduk di depannya saat ini dan mungkin ini pertama kali ia melihat wajah itu.
Sejak duduk di sana, Sabil sama sekali belum mengucapkan apapun. Saat ini Sabil sibuk bertanya pada pikirannya sendiri siapa laki-laki di depannya.
Fitria tiba-tiba menepuk lengan Sabil dan berucap, "oh iya bil, lu belum kenal ya? Ini Abim IPS 1." Ah, ternyata laki-laki itu bernama Abim, batin Sabil. Abim menoleh pada Sabil lalu tersenyum, "gua Sabil," kata Sabil jadi kikuk kemudian membalas senyuman.
Singkat cerita mereka memesan makanan dan minuman, sambil menunggu pesanan datang mereka bercerita, begitupun ketika makanan tiba. Percakapan mereka tak jauh dari tugas-tugas, membicarakan guru yang mereka tak suka sampai pada masalah hati tentang naksir kakak kelas, atau belum melupakan mantannya, hal-hal seperti itu.
Pepen juga seringkali melontarkan candaan pada yang lain dan lebih sering menjahili Laura yang sedari tadi tidak berhenti bercerita kalau ia naksir dengan laki-laki yang membopongnya ketika pingsan di acara kemah kemarin.
"GUA YAKIN pasti cowo yang nolongin gua waktu itu ganteng, mau tau kenapa?," ujar Laura. Semua yang mendengar menggeleng sambil memberi tatapan sinis. "Karena gua bisa cium wangi parfumnya yang manly itu! Kaya parfum orang cakep gitu!," lanjut Laura meskipun tak ada yang ingin mendengar.
Laura sedari tadi terus berceloteh kalau dia menaksir laki-laki yang membopongnya ketika pingsan. Iya pingsan, saat ia tak sadarkan diri. Dia menghayal kalau laki-laki itu pasti tampan hanya karena parfum yang ia cium waktu itu. Laura yakin laki-laki itu anak OSIS dan ia tidak akan menyerah mencari tau siapa laki-laki itu.
"Kata gua sih mending lu sadar bego, ntar kalau udah ketemu ternyata ga sesuai harapan lu nangis-nangis ke rumah gua. Alah tai kucing!," balas Pepen sarkas.
Laura dan Pepen ini sahabat kecil sama halnya seperti Sabil dan Maya. Mereka selalu menempel kemanapun bahkan ketika berangkat dan pulang sekolah mereka juga bersama. Mereka pisah kalau sudah di rumah masing-masing saja.
"Diem lu! Bantuin gua ge cari tau siapa, lu kan OSIS juga!," kaya Laura kesal. "OGAH," balas Pepen.
Semuanya tertawa mendengar pertengkaran kecil keduanya, termasuk Sabil. Temannya yang lain juga ikut menakuti Laura kalau laki-laki yang menolongnya itu tidak tampan seperti dugaannya. Sementara Sabil hanya tersenyum lalu menyeruput minuman yang ia pesan.
Ketika gadis itu mendongak ternyata sedari tadi laki-laki yang ia baru tau namanya hari ini terus memperhatikannya, Sabil mengalihkan pandanganya dari Abim. Sesekali Sabil curi pandang pada Abim memastikan laki-laki berkumis tipis itu tak lagi memperhatikannya.
Sabil bernafas lega saat tau Abim tak lagi memperhatikannya. Tak berapa lama kemudian langit tiba-tiba menggelap dan tetesan air dari atas mulai turun, mereka yang saat ini sedang di area luar cafe mulai berdiri mengemas barangnya. Pengunjung lain yang berada di luar juga sudah berlari masuk ke dalam.
Saat sudah sampai di dalam, Sabil baru teringat sesuatu, gadis itu menepuk jidatnya, "aduh gua lupa tasnya ketinggalan. May, gua ke sana dulu ya sebentar," ujar Sabil. Baru saja ia mau melangkahkan kakinya keluar mengambil tas, tiba-tiba Abim yang memang belum ada di dalam cafe bersama yang lain datang dengan tangan yang membawa sebuah tas.
Abim mendekat pada Sabil lalu menyodorkan tas tersebut, "ini tas lu ketinggalan," kata Abim diakhiri senyuman.
"Oh! Makasih ya, maaf jadi ngerepotin," balas Sabil juga tersenyum. Dua kata yang terlintas di benak Sabil saat ia menerima tas itu, “dia baik”.
"Ayo cari tempat duduk, pegel nih berdiri mulu, hujannya kayanya awet deh," ujar Fitria yang datang dengan ice cream coklat di tangannya diikuti Pepen dan Laura di belakang yang masih bertengkar, kali ini pertengkaran mereka karena Laura yang memaksa untuk tukar ice cream.
"Datang-datang udah makan es krim aja, bagi dong!," ujar Maya lalu mendekat pada Fitria. "Ini gua beliin buat lu sama Sabil," kata Fitria lalu menyodorkan dua eskrim yang masih terbungkus.
"Wihhh makasih Fitria, baik deh jadi makin sayang gua," kata Maya. Fitria berdehem menanggapinya.
"Bim, kalo lu beli sendiri ya, sorry," kata Fitria pada Abim.
"Iya makan aja, ga pengen es krim gua," jawab Abim.
"Oke."
Singkat cerita mereka mencari tempat duduk sambil menunggu hujan mereda. Saat itu, keadaan ramai diisi dengan pertengkaran mulut antara Laura dan Pepen, ditambah dengan Maya dan Fitria yang ikut membuat suasana semakin panas. Sementara Sabil dan Abim tak banyak bicara mereka menanggapi temannya dengan tawa dan senyum.
Sejak insiden tas tadi, Sabil tak bisa berhenti memikirkan itu. Entah kenapa Abim dan kejadian itu sangat manis menurutnya.
Bersambung....
Terimakasih yang sudah membaca :)
Komentar
Posting Komentar