Kisah Usai Yang Tak Pernah Dimulai (END)
Bab 3 : Miranda Saputri
By : Sandyakala (with N.)
Aku bisa mendengar suara pintu dari balik tembok, yang berarti Mira sudah mulai menjalankan aksinya. Sebelumnya Mira menyuruhku untuk tetap berada di balik tembok ini dan masuk jika ia menelpon, tapi aku tak tahan jika hanya harus menunggu jadi aku mulai mendekat pada pintu kamar mereka.
Dari luar terdengar jelas suara orang ribut di dalam, tak lama ponselku bergetar di dalam saku ada yang menelpon. Aku mengambil ponselku dari saku, ternyata ini telepon dari Mira. Aku diam sebentar, menimang keputusan menjawab telepon dari Mira. Jujur aku tak siap menjalankan rencana ini, rasanya kami sudah sangat jauh.
Lama tak ku jawab, panggilan darinya mati, tapi Mira menghubungi ku lagi dan lagi-lagi aku tak segera menjawab dan panggilan darinya mati lagi.
Mira, seandainya kamu tau aku sama sekali tidak mengenal dirimu yang sekarang, rasanya kamu bahkan lebih jauh dibanding kemarin, rasanya aku bahkan tak punya harapan lagi bersama mu, tak ada jaminan kamu akan bersama ku setelah ini.
Aku mencintaimu, itu hal yang tak perlu dipertanyakan, tapi melihatmu sekarang rasanya sakit sekali, lebih sakit dibanding saat aku melihatmu tersenyum dengan pria lain.
Aku pikir aku bisa melakukannya, tapi ketika sudah sejauh ini akal sehatku menolak ini semua. Hatiku berkata aku ingin bersamanya dengan cara apapun, tapi otakku menjawab ini bukan cara yang aku inginkan, bukan begini yang aku mau.
Mira, demi kamu, aku dan Aldi, maaf aku akan memilih pilihan kedua. Aku yakin dengan pilihanku, sekali lagi maaf.
Dengan tangan gemetar, aku mencari kontak yang sudah aku siapkan untuk momen ini. Mir, aku berjanji jika kamu mau aku ajak pergi dari kegelapan ini, aku akan tetap menerimamu apa adanya.
"Iya, kamar no 180." Aku mematikan sambungan panggilan tadi, lalu mendekat ke kamar Mira dan Aldi, menekan tombol pin yang sudah diberitahukan Mira sebelumnya.
krrt, perlahan aku membuka pintu kamar. Kamar mereka sangat kacau sekarang, suara teriakan yang terdengar nyaring sekali tadi sekarang sunyi.
"Bayu, kenapa kamu di sini? Bagaimana kamu masuk? Kamu—akhh, sebenarnya apa yang terjadi!? Kalian ini ada hubungan apa!?" Aldi tiba-tiba berteriak, ini tak seperti rencana kami sebelumnya.
Aku menoleh pada Mira yang terlihat ketakutan, bahkan diriku tak bisa mempercayai mimik wajah itu sekarang.
"Mir, kenapa jadi gini?," tanyaku.
Aldi tiba-tiba memotong pertanyaanku, ia berkata jika ia melihat aku dan Mira di luar kamar, Aldi juga bilang jika ia membaca pesanku dengan Mira di ponsel perempuan itu, tak sampai di sini, Aldi berkata ia juga melihat Mira menaburkan sesuatu di teh yang dipesan.
Aku jadi bingung sendiri, keadaan tiba-tiba kacau tak seperti rencana kami. Aldi melihat kami? Mira bilang Aldi sedang mandi saat ia memesan teh, pesan kami juga terbaca oleh Aldi? Tapi Mira bilang ia sudah menghapus semua bukti, dan Aldi memergoki Mira? Kenapa Mira bisa seceroboh itu? Seharusnya ia tak mungkin ceroboh begitu. Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku. Semuanya seperti terjadi karena direncanakan.
Tunggu, apa ada kemungkinan Mira merencanakan ini semua? Tapi kenapa? Bukankah ia ingin membunuh Aldi?. Aku menoleh lagi pada Mira yang masih memasang wajah ketakutan itu.
Mira, apa semua ini!?
prang, Aldi memecahkan botol minuman kaca yang berada di atas nakas, pria itu mulai mendekat padaku sambil menyodorkan botol kaca tersebut, aku berjalan mundur.
"Kalian ingin membunuhku? Biar aku yang bunuh kalian terlebih dahulu," kata Aldi.
"Mas bunuh Aldi cepat!" Mira berteriak keras.
"Mira, aku tidak menyangka kamu berbuat begini dengan dia. Aku kurang apa Mir? Aku tau kita memang melakukan kesalahan saat itu, tapi aku ingin bertanggung jawab, dan aku bahkan memaafkan kamu saat kamu bunuh anak aku Mir!. Mira, jangan-jangan kamu membunuh anak kita karena pria ini!? ANJING!," kata Aldi yang aku sama sekali tak mengerti maksudnya.
Mira bilang Aldi yang membunuh janinnya, Mira bilang ia ingin balas dendam karena hal itu, tapi pernyataan Mira sebulan yang lalu jauh berbanding terbalik dengan pernyataan Aldi sekarang.
Aku tak tau harus percaya pada siapa sekarang, aku bahkan tak bisa berpikir jernih sekarang. Saat ini, Aldi menyodorkan botol kaca padaku dan Mira terus berteriak untuk membunuh Aldi.
"MAS BAYU CEPAT BUNUH DIA!"
BRAK, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Para pria berseragam dan membawa senjata datang menggebrak pintu kamar. Mereka polisi yang aku panggil.
Benar, pilihan keduaku adalah mengakhiri semuanya dengan mengungkap rencana Mira dan membawanya pada polisi.
Keadaan sekarang dua kali jauh lebih kacau. Polisi yang ku panggil menodongkan senjata pada kami, memerintah kami untuk bersimpuh dan mengangkat tangan.
"Benar anda saudara Bayu?," tanya salah satu dari mereka padaku. "Benar."
"Kalian bertiga ikut kami ke kantor," lanjutnya, kami bertiga berdiri lalu berjalan dengan kedua tangan kami yang diborgol oleh mereka, masing-masing dari kami lengannya dipegang menahan kami.
Keadaan hotel benar-benar kacau, banyak orang berdatangan mendekat ingin melihat yang terjadi, bahkan keluarga Mira dan Aldi juga di sana menangis dan memohon polisi untuk tak membawa anak mereka.
Aku masih beruntung karena Ibu tak ada di sini, tadi aku berbohong meminta izin untuk menginap di rumah temanku Dani.
Hotel menjadi sangat ramai, kami keluar hotel melewati pintu darurat. Aku sesekali menoleh pada Mira yang terus menundukkan kepalanya, tangannya terkepal seperti menahan amarah.
Mira mungkin marah dan benci padaku karena aku yang melaporkan ini semua, tapi jujur mir aku sama sekali tak bermaksud yang buruk untukmu.
Tepat ketika kami sudah berada di luar hotel, terdengar suara tembakan dari belakang ku. Sontak kami semua menoleh ke belakang, itu Mira yang menembakkan peluru ke atas lalu berlari ke arah Aldi dan menodongkan senjata tepat di kepala suaminya.
Entah bagaimana cara Mira dengan tangan yang diborgol, mengelabui polisi dan mengambil senjatanya hingga berani menodongkan senjata pada Aldi.
"MIRA!!"
Mira tersenyum sembari tetap menodongkan pistol ke arah Aldi, aku tak mengira jika Mira segitu berambisi membunuh suaminya itu sampai berani menodongkan pistol ke arahnya.
Mira... Wanita itu mungkin meyakini bahwa segala usahanya akan sia-sia jika suaminya tidak meninggal. Inilah inti dari tujuannya. Baginya, Aldi harus mati. Meskipun semua rencananya hancur dengan apa yang sudah ku lakukan, ambisinya mendorongnya untuk tetap bertekad mencapai tujuannya dengan segala cara. Benar-benar Mira yang tidak kukenal.
"Dasar pengkhianat, kamu Bayu!" Mira berteriak kepadaku dengan gemetar, lalu tawa sinis meluncur dari bibirnya.
"Yah... pengkhianatanmu ini juga sia-sia, mas. Tetap saja untuk suamiku," Mira menatap ke arah Aldi,
"Kamu akan mati hari ini."
"Mira, sudah cukup! Aku mohon, hentikan semua ini!" Teriakku, dengan suara penuh dengan keputusasaan.
Sedari awal, aku memang berniat membantu Mira menjalankan rencana ini. Namun, aku tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa Mira akan membunuh seseorang.
Dengan tatapan datar, Mira menatap ke arahku. Tanpa ragu, ia menarik pelatuk pistol itu, dan suara tembakan menggema di dalam ruangan hotel ini.
Aku terpaku dalam keheningan, Perasaan ini bercampur aduk antara kebingungan, kejutan, dan keputusasaan. Hatiku berdegup kencang, merasa hancur melihat tragedi yang terjadi di hadapannya. Disana, setelah ditembak oleh Mira, Aldi tergeletak tak berdaya di lantai.
Tidak cukup Aldi saja yang mati, Mira juga menembak sebagian polisi yang ada disana. Benar-benar wanita gila. Aku melihatnya langsung kabur setelah semua yang ia lakukan.
Tidak bisa kubiarkan ia kabur begitu saja. Mira harus ditangkap. Aku benar-benar marah sekarang. Polisi yang tersisa pun ikut mengejarnya dan langsung menghadang di beberapa tepi jalan yang memungkinkan Mira untuk kabur. Hatiku berdebar keras saat aku menyadari bahwa Mira tidak memiliki pilihan lain selain berhadapan dengan polisi atau melarikan diri ke jalan raya yang ramai di depan sana. Tetapi, risiko terlalu besar. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia melakukannya.
Tetapi, Mira terus berlari bahkan sampai ke tengah jalan raya. Tiba-tiba, suara deru mesin besar menggema di kejauhan. Pandanganku meluncur ke arah suara itu, dan terlihatlah sebuah truk besar berlalu dengan cepat di jalan raya ini. Hatiku berdegup lebih cepat saat aku menyadari bahwa Mira sedang berlari tepat di depan truk itu.
"Mira, hati-hati!" teriakku tanpa sadar, kepanikan memenuhi suaraku.
Namun, itu sudah terlambat. Tanpa bisa menghindar, Mira terhantam oleh truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya terpental ke udara sebelum jatuh dengan keras ke aspal. Detik-detak berikutnya terasa seperti abad bagi diriku, ketakutan dan kepanikan melanda hatiku.
Aku berlari menuju tempat kejadian, hatiku berdebar dengan keras. Ketika aku akhirnya mencapai Mira, aku merasakan rasa sakit yang menusuk hatiku. Tubuhnya terbaring lemah di tengah jalan, terluka parah oleh tabrakan yang mengerikan itu.
Aku memang menginginkan nya di penjara untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang Mira lakukan. Tapi aku tak setega itu menginginkan nya mati.
Dengan gemetar, aku meraih tangannya. "Mira, tolong, bertahanlah," bisikku dengan suara yang hampir serak oleh ketakutan.
Tetapi, tidak ada jawaban dari Mira. Hanya diam yang menyelimuti malam yang dingin dan terengah-engah napasnya yang lemah.
Polisi yang berada disana berlari menuju kami. Situasi kali ini benar-benar kacau. Salah satu dari mereka menelpon ambulan untuk menangani Mira, Aldi, dan beberapa polisi yang tertembak.
Malam ini, suasana begitu tegang dan gelap. Sorot lampu-lampu polisi yang berkedip-kedip menciptakan bayangan-bayangan yang menakutkan di sepanjang jalan. Suara deru mesin mobil patroli dan suara siren yang meluncur di udara.
Di bawah cahaya bulan yang redup, malam ini menjadi saksi dari peristiwa yang mengguncang hati dan menantang keputusan-keputusan sulit. Dan di tengah kekacauan itu aku tetap disini, memeluk wanita pujaan hatiku dengan erat sambil berdoa agar ia tetap selamat.
Keesokan harinya, pada pukul 3 dini hari aku termenung sembari menunggu di depan ruangan UGD, ditemani beberapa anggota keluarga Mira yang menangis sedari tadi.
Tiba-tiba, seorang dokter mendekat ke arah kami dengan wajah serius. Matanya memancarkan kesedihan yang dalam, dan aku tahu bahwa berita yang akan dia sampaikan tidak akan menyenangkan.
"Kalian semua keluarga dari nyonya Mira?" Tanya dokter itu.
"Benar dok. Bagaimana... Bagaimana dengan keadaan anak saya" tanya ibu Mira dengan suara sesegukan.
"Maafkan saya... Saya sudah berusaha sebaik mungkin," katanya dengan suara parau. "Nyonya Mira telah pergi."
Air mata mengalir di wajah kami semua, orang tua dari Mira menangis dengan histeris. Hati ini hancur saat mendengar berita itu. Rasanya seperti seluruh dunia runtuh di atasku. Aku merasakan kekosongan yang dalam di dalam diriku, kehilangan yang begitu mendalam bahwa aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi rasa sakit ini.
******
Beberapa bulan telah berlalu sejak kepergian Mira, tetapi rasa kehilangan dalam diriku masih terasa begitu dalam. Setiap pagi aku bangun, hanya untuk dihadapkan dengan kenyataan yang menyakitkan bahwa Mira tidak lagi berada di hidupku.
Mimpi-mimpi buruk tentang kejadian tragis itu menghantui tidurku setiap malam, membuatku terbangun dalam keringat dingin dan air mata yang tak terbendung.
Kehilangan Mira telah menghancurkan seluruh hidupku. Aku merasa seperti tidak ada lagi arti atau tujuan dalam hidup ini tanpanya. Segala sesuatu terasa datar dan suram, seperti tanpa harapan dalam hidup ini.
Aku terdiam dalam keheningan, teringat akan kata-kata Mira yang pernah diucapkannya dengan penuh keyakinan. "Kita akan bahagia setelah semuanya selesai," begitu katanya, dengan senyumnya yang hangat dan mata yang dipenuhi dengan harapan.
Namun, kenyataannya adalah kehidupan yang penuh dengan kesedihan dan penderitaan.
Setiap hari aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika segalanya berjalan sesuai rencana. Apakah kami akan menikmati cinta dan kebahagiaan yang kami impikan bersama?
Betapa bodohnya diriku untuk menanyakan hal itu? Bahwa akulah yang menggagalkan semua rencana ini. Ini semua salahku. Maaf Mira... Maaf aku memang bodoh.
Rasa sesal merayap dalam diriku, meremas hatiku dengan erat saat aku menyadari bahwa keputusan-keputusan yang telah aku buat telah membawa aku ke titik ini. Kehilangan Mira, cinta sejatiku.
Tetapi sekarang, semua itu hanya menjadi bagian dari masa lalu yang menyakitkan. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi. Hanya.. tetap saja, hatiku masih sakit. Aku menatap cermin didepan sana, melihat diriku yang kacau dengan tatapan sayu ku.
Suara jam dinding yang terdengar, diiringi hujan deras diluar. Ruangan sunyi ini.. rasanya aku sudah menyatu dengan kamar ini, tak peduli lagi dengan kehidupan di luar sana.
Aku menatap refleksi diriku di cermin dengan tatapan yang penuh dengan kenangan yang menyakitkan dan senyuman palsu. Meskipun aku berusaha keras untuk melupakan masa lalu yang penuh dengan luka dan kekecewaan, namun bayangan-bayangan itu masih menghantui pikiranku setiap hari dan akan ku hiasi dengan senyuman yang menyakitkan ini.
Aku duduk lalu mengambil salah satu buku di rak ruang kerja ku, ku buka buku itu. Aku ingin menorehkan kata-kata di sana, kata-kata yang belum sempat aku ucapkan padanya. Kata-kata yang selalu menghantuiku tiap malam.
Aku mengambil sebuah pena, tanganku terangkat menulis di buku itu,
**
Untuk kamu perempuan yang pernah ada di hatiku dan akan selamanya begitu,
Aku mungkin memang pria pengecut yang tak pernah berani mengungkapkan perasaanku, aku bahkan masih ingat betul pertemuan pertama kita, saat aku membantu berdiri karena kamu terjatuh dari sepeda, aku ingat saat-saat aku menawarkan diri untuk membantu ayahmu agar aku bisa bertemu denganmu, aku ingat kala pertama kalinya aku menjemputmu dengan motor kesayangan ku, aku ingat saat aku memberikan lelucon, kau tertawa sampai memukul pundakku.
Mira, aku tak pernah menyangka kau dan aku akan berakhir seperti ini. Aku tak pernah sangka akan bertemu dirimu yang berbeda di hari-hari terakhir sebelum kejadian mengerikan itu terjadi.
Sejak kepergian mu beberapa bulan lalu, seringkali aku bertanya apakah aku harus menyusulmu atau tidak, apakah kamu memerlukan aku seperti saat pertemuan pertama kita atau tidak. Mira, keadaan di sini sangat kacau sejak kepergian mu. Pemandangan yang biasa aku lihat dari balkon kini hanya kenangan, keluargamu pindah karena tak ingin mengingat masa-masa itu. Ibumu, Bibi Tina tak ada hentinya meneriaki namamu setiap pagi, keluarga Aldi selalu mendatangi rumahmu untuk meminta tanggung jawab, dan aku Mir, aku di sini melihat kejadian itu semua, mengingat kenangan kita, dan terus menyesalinya.
Seandainya aku tak melaporkanmu kepada polisi mungkin ini tak akan terjadi, seandainya aku bicara menasehati baik-baik lebih dahulu mungkin ini tak akan terjadi, atau mungkin seandainya aku menjauhimu dengan Aldi dan lebih dahulu mengungkapkan perasaanku padamu mungkin kata-kata mu tentang hidup bahagia bersama bisa terjadi. Seandainya, seandainya, seandainya begitu terus kata yang keluar.
Mira, meskipun begitu perasaan ku ini tetap untukmu. Aku menyadari nya Mir, aku menyadari jika perasaan ku sudah terlalu dalam dan aku tak pernah menyesali itu.
Tapi Mir, sepertinya aku tak bisa menyusulmu, maaf. Banyak di sini yang membutuhkanku dan sayang kepadaku, aku yakin kamu juga termasuk mereka yang sayang padaku. Sama seperti mereka yang tak ingin aku menyusulmu, aku yakin kamu juga begitu kan Mir?
Mira sayang, kisah kita berakhir di sini, kisah yang tak pernah menyentuh bab pertama. Untuk yang terakhir, aku ingin mengucapkan terima kasih atas setiap kenangan yang telah kita bagikan. Semoga waktu akan menyembuhkan luka dan membawa kedamaian untuk kita berdua. Mira, Sampai jumpa di bab-bab kehidupan yang baru selanjutnya di mana kita bisa hidup bahagia bersama.
Buku ini aku persembahkan untukmu. Selamat tinggal dan istirahatlah dengan tenang di sana, Miranda Saputri.
Dari aku,
Bayu Handaka
*
END
Halo semuaaaa, sebelumnya aku mau mengucapkan terimakasih yang sudah berkenan untuk membaca cerita estafet dengan temanku ini. Cerita ini awalnya aku post di chanel telegram ku, aku taruh linknya di bawah hehe. Udah itu aja, terimakasih juga buat yang sudah berpartisipasi dalam cerita ini. Dadahhhhhhšš sampai bertemu di cerita selanjutnya >>>>
https://t.me/derunafasyangterdengar
Komentar
Posting Komentar