Kisah Usai Yang Tak Pernah Dimulai

Bab 1 : Kopi dan Mira
By : Sandyakala (dengan N.)

Sambil menyeruput minuman pahit ini, aku menyaksikan pemandangan yang kurang mengenakkan di depanku. Tentangga sekaligus perempuan yang sejak lama menjadi pujaan hatiku telah dilamar kekasihnya di depan mataku. Aku sudah lama memendam rasa padanya, tak kusangka pilihan menyeruput kopi di balkon kamar ini adalah pilihan yang salah.

Saat ini, tenggorokan ku mulai terasa tidak nyaman setelah menyeruput kopi itu. Tanpa kusadari bahwa darah mulai menetes dari hidungku. Pemandangan didepan sana dan entah apa yang terjadi dengan diriku sekarang, ini benar-benar menyakitkan.

Kepalaku mulai terasa pusing, aku mengusap darah yang keluar dari hidungku, tapi darah itu tak kunjung habis, aku mengusapnya terus, lagi, lagi, lagi. Batinku mulai memaki, apa yang terjadi padaku sekarang?

Mataku beralih lagi pada pemandangan di depan sana, rasanya benar-benar menyakitkan, seharusnya aku di sana tapi kenapa pria itu? Kenapa harus dia!?

Wanita pujaanku, Mira, tak sengaja menangkap sosok diriku di atas sini yang memperhatikannya, ia melambaikan tangannya padaku, tersenyum sangat manis, dan sepertinya karena itu jantungku justru berdetak tiga kali lebih cepat, pujaan hatiku itu memang sangat baik dan ramah terutama pada tentangga prianya ini. Iya aku sadar, aku hanya seorang pria yang kebetulan mengenalnya, tidak lebih.

Setelah puas memandangi wajah manisnya, sepersekian detik mataku menangkap pria yang sudah menjadi tunangannya, rasa kesal menyelimutiku sekarang, terlebih pria itu Aldi, pria yang sangat ku benci sejak tahun pertama sekolah.

Tenggorokan ku bertambah sakit, darah yang keluar dari hidungku tak henti-hentinya tuk terus mengucur. Pandanganku semakin kabur, oh tuhan ini sangat menyiksaku. Lambat laun aku aku sudah tak kuat untuk menopang diri ini dan berakhir pingsan.

Perlahan aku membuka mataku satu persatu, sakit kepala luar biasa masih bisa kurasakan saat ini. Hal pertama kali yang kulihat adalah wajah ibuku yang saat ini menatapku dengan cemas.

"Alhamdulillah, ibu khawatir sama kamu. Sekarang sakit yang mana? Biar ibu panggilkan dokter." kata ibu.

Tanganku menahan pergelangan tangan ibu, aku menjawab, "ga usah Bu, aku gapapa cuma pusing aja."

"Ini kita di rumah sakit Bu?," tanyaku, tapi belum sempat menjawab perhatian kami teralihkan oleh pintu yang terbuka menampilkan sosok yang sangat aku ingin rengkuh tubuhnya.

"Assalamualaikum," ujar Mira, suaranya bahkan terdengar merdu sekali di telingaku.

"Waalaikumsalam"

"Loh nak Mira? Kamu ko ke sini? Bukannya masih ada acara di rumahmu?," tanya ibu.

"Iya Bu, udah selesai ko. Aku ke sini mau jenguk Mas Bayu."

Aku tersenyum mendengarnya, tatapan Mira juga beralih padaku, ia mendekat lalu bertanya bagaimana keadaan ku sekarang. Mira, seandainya kamu tau, aku menjadi dua kali lebih baik sejak kamu datang menjengukku.

"Iya sudah membaik. Ngomong-ngomong kamu jenguk aku gapapa Mir?," tanyaku basa-basi.

"Ya gapapa Mas, masa jenguk tetangga ga boleh sih?," jawabnya lalu tersenyum. Lagi-lagi senyuman itu.

Ibu yang sedari tadi mendengar kami, ikut menimbrung, "justru Mira iniloh yang nolongin kamu, katanya tiba-tiba kamu jatuh di balkon. Kebetulan Mira liat kamu, jadi dia tadi datang buru-buru kasih tau ibu. Eh bener, kamu pingsan."

"oh iya makasih ya mir" kataku canggung. 

Terlintas lagi dalam pikiranku kejadian sebelum aku tak sadarkan diri dan berakhir di rumah sakit ini, waktu itu aku hanya meminum kopi sambil meratapi nasibku, lalu tiba-tiba kepala dan tenggorokan ku mendadak sakit dan aku tak ingat apapun.

"Bu apa kata dokter mengenai kondisi ku?," tanyaku pada Ibu. 

"Hasilnya belum dibagikan, mungkin sebentar lagi hasilnya sudah jadi," jawab ibu.

Ruangan kamarku mendadak hening, sampai suara ponsel ibu berdering karena telepon dari adikku Asih.

"Mir, ibu mau keluar sebentar. Kamu tolong jaga Bayu sebentar ya," ujar Ibu.

"Oh iya bu, mas Bayu biar sama aku," kata Mira.

Ibu pun keluar dari ruangan, tersisa hanya aku dan Mira di dalam sini. Setelah pintu tertutup rapat, Mira mendekat padaku.

"Mas, kamu ga baca surat dari aku?," tanya Mira. Aku bingung tak mengerti maksudnya. 

"Jadi benar kamu belum baca? Makanya minum kopi itu. Untung aku liat kamu, jadi buru-buru aku bisa kasih penawar racunnya," lanjut Mira yang membuatku tambah bingung.

"Racun? Maksudmu apa mir? Kopi itu beracun?, tapi itu kopi dari kamu. Kamu—"

"Aku kasih bukan buat kamu, mas harusnya baca surat dari aku. Kenapa ga baca?," 

Benar, aku bahkan masih ingat hari di mana Mira mengetuk pintu rumahku dan memberikan kopi itu, aku masih ingat senyumnya kala itu. Aku bahkan menaruh kopi itu di kamarku agar aku satu-satunya yang bisa minum kopi pemberiannya. Tapi aku tak tahu apa-apa tentang surat yang diberikan olehnya.

"Mas ga tau apa-apa soal surat. Surat apa? Lalu kalo bukan mas, kopi itu harusnya buat siapa? Kenapa kamu kasih ke aku?"

"Buat Aldi! Aku mau minta tolong kamu bantu rencana aku, aku mau Aldi mati!," kata Mira yang membuatku terkejut. Kenapa ia ingin membunuh tunangannya sendiri.

Aku menatap mata Mira, perasaan marah yang berapi-api jelas sekali terlihat, rasanya ia bukan seperti Mira, bukan seperti gadis pujaanku yang manis dan lembut.

"Kenapa? Bukankah kamu mencintainya? Kalian sudah lama kan berhubungan sejak sekolah dulu?," kataku.

"Aldi pantas mati, aku benci dia mas! Dia sudah membunuh satu-satunya yang berharga bagiku!," balasnya.

Tunggu, Aldi? Bunuh? Apa maksudnya semua ini?. Sebenarnya apa yang terjadi. Setelah Mira berucap begitu, raut wajahnya berubah menjadi muram, ia mengangkat tangannya mengambil tanganku lalu meletakkan tanganku di perutnya.

"Mir?," suaraku sangat pelan, pikiranku berkecamuk.

"Iya mas, Aldi membunuh anak kami."

Bersambung....


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Aku, Kau dan Meikarta

Fabian