Antara Aku, Kau dan Meikarta

Chapter 1. Awal Segalanya
By : Sandyakala 

Sudah satu bulan sejak tahun ajaran baru. Rasanya sangat cepat sekali sudah satu bulan memulai pendidikan di sekolah baru dengan teman-teman baru juga. 

Kemarin OSIS datang dari kelas ke kelas menginformasikan pada seluruh murid kelas 10 untuk perlengkapan apa saja yang akan dibawa saat camping pelantikan besok. Dan hari ini adalah hari camping pelantikan yang akan dilaksanakan selama dua hari satu malam.

Pada pagi hari seluruh peserta mengikuti upacara apel dilanjut dengan materi baris-berbaris oleh personil militer, selanjutnya makan siang lalu materi di ruangan masing-masing. Kemudian, pada sore hari peserta akan mengikuti kegiatan dari ekstrakulikuler masing-masing. 

Acara terus berlanjut hingga saat ini ketika malam hari tiba. Sebelum api unggun, semua peserta akan makan malam terlebih dahulu. Suara panitia di pengeras suara terdengar sangat nyaring sekali di telinga.

Seluruh murid kelas 10 berlari keluar kelas ketika mendengar suara teriakan panitia yang mengatakan waktu makan malam dan akan dibagikan kotak makan. Suaranya sangat keras dan mengancam jika tidak datang dalam hitungan yang ia berikan maka tak ada makan malam.

Ruangan satu yang diisi oleh perempuan mulai berhamburan keluar kelas, teriakan saling sahut-menyahut terkecuali perempuan yang saat ini sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. 

"Bil ayo! Lu ga mau dapet nasi kotak?," kata May, teman perempuan tersebut.

Perempuan yang dipanggil 'Bil' tadi menoleh pada temannya lalu dengan malas ia berdiri menghampiri temannya itu untuk keluar kelas. 

Perempuan tersebut adalah Sabila Khairunnisa atau yang sering dipanggil dengan nama Sabil. Seorang atlet silat yang kini menjalani hidupnya sebagai murid baru di SMA. 

Teriakan panitia semakin keras menyuruh peserta kegiatan ini untuk duduk berbaris di lapangan, bersamaan dengan itu kata-kata kasar dari murid kelas 10 itu juga ikut menyertai memaki orang yang berteriak itu sambil berlari ke lapangan. 

Di tengah lapangan  mereka berbaris menunggu nasi kotak yang dibagikan. Nasi kotak yang diberikan juga harus habis tak tersisa tak peduli makanannya asin atau tidak ditambah tak ada cahaya sedikitpun yang menyinari sehingga harus makan dengan keadaan gelap.

Mereka berkeliling dengan senter yang berada di tangannya, senter itu diarahkan ke wajah murid-murid baru. Mereka juga memberi waktu dan jika waktu habis, makanan yang diberikan juga harus habis tak tersisa dan mengancam jika tidak dihabiskan mereka akan memaksa peserta untuk membuka mulutnya dan memaksa memakan makanan itu sampai habis.

Seluruh murid tak terkecuali Sabila yang mendengar ancaman itu tentu takut, jadi ia makan dengan terburu-buru, dan tak sempat minum, sampai akhirnya tiba-tiba dadanya terasa sesak sekali, nafasnya tak teratur bahkan menimbukan bunyi, asmanya kambuh.

May yang berada di dekatnya segera berteriak pada panitia di sana, dia berkata kalau asma Sabila kambuh. Mendengar teriakan itu, mereka berlari dan membawa Sabila ke UKS. 

*****

Kini Sabila berada di ruang UKS, ia memegang dadanya yang terasa sakit sekali. Satu orang panitia lainnya datang mengatakan kalau tabung oksigennya habis. Mendengar itu, seorang laki-laki yang merupakan salah satu panitia di sana ikut panik melihat kondisi Sabila. Dengan ucapan yang terbata-bata menahan sakit di dadanya Sabila berkata jika obat asmanya ada di dalam tas.

"Kamu ruang berapa?," tanya laki-laki itu, di saku bagian kiri terlihat nametag 'Fatih Rosyidin'. 

Sabila tak bisa berkata lagi, jadi ia mengangkat jari teluntuknya yang artinya satu, ruangan satu. 

"Dit, ntar gua telpon lu ya!," ujar Fatih pada laki-laki salah satu panitia acara tersebut, setelah itu ia berlari keluar.

Tak lama Fatih keluar, dua pria yang Sabil tahu merupakan guru di sana Pak Jajang dan Pak Eko datang menghampiri Sabil. Awalnya ia mencoba menenangkan Sabil, tapi kemudian dia berkata,

"Kamu pura-pura ya?," kata salah seorang di sana. "Ga usah pura-pura kamu," lanjut yang satunya lagi. Sabil diam saja tak menjawab karena merasa sakit di dadanya.

"Orang sakit beneran kaya gini bapak bilang pura-pura!," balas panitia laki-laki 'Dit' yang berada di sana bermaksud membela Sabila.

Tak lama, ponsel laki-laki yang dipanggil 'Dit' atau bernama lengkap Aditya Warmanto tadi berdering. Ponselnya berdering karena panggilan video masuk dari Fatih, dengan cepat ia menggeser jempolnya ke atas menerima panggilan tersebut.

"Tasnya yang mana!?," ujar Fatih, terlihat dia bergetar karena panik, bahkan suara nafasnya yang memburu terdengar.

Adit segera memberi ponselnya pada Sabila dan bertanya tas gadis itu di sebelah mana. Sabila berkata tas berwarna biru tua yang ada di dekat jendela. 

Mendengar jawaban Sabil, Fatih segera menghampiri ke arah jendela dan mencari tas berwarna biru tua. Setelah menemukannya, ia bertanya lagi di mana Sabil meletakkan obatnya. Beberapa menit Sabil tak langsung menjawab pertanyaan itu, dadanya sakit sekali susah untuk bicara.

Fatih yang melihat itu semakin panik, jadi ia membongkar semua isi tas Sabil. Tapi laki-laki itu tak kunjung menemukannya, lalu tak lama suara Sabil terdengar yang mengatakan obatnya ada di saku depan.

"Obatnya di depan tih!," suara panik Adit juga ikut terdengar.

Fatih kemudian mengecek saku depan dengan tangan yang bergetar. Dan benar, obatnya ada di sana tertutup oleh sabun cuci muka. Setelah mendapatkan obatnya, ia berlari keluar menghampiri Sabila.

Singkat cerita, Fatih datang dengan obat di tangannya kemudian Sabila minum obat tersebut. Kini nafasnya mulai teratur berganti dengan rasa pusing yang muncul tiba-tiba.

"Kamu istirahat dulu, ntar saya mau ambil motor ke rumah sakit," kata Fatih.

"Makasih ka," jawab Sabil. Setelah itu Fatih keluar dari UKS diikut dengan Adit, dua guru tadi juga keluar UKS.

Keadaan UKS lumayan penuh, tidak hanya ada Sabila di sana. Beberapa peserta camping sejak makan malam tadi mengalami asma seperti Sabila, ada juga yang muntah karena makan terburu-buru tadi, belum lagi karena makanan kotak itu ternyata asin.

Tidak ada yang berani bilang soal rasa makanannya karena peserta diperintahkan tak boleh mengeluh dan makanan harus dihabiskan.

Keadaan Sabila mulai membaik, matanya yang sayu menangkap May dan satu laki-laki yang ia tak lihat wajahnya datang ke sana. May bermaksud ingin melihat kondisi sahabatnya itu. 

"Lu baik-baik aja kan? Masih sesak ga? Mau ke rumah sakit?," pertanyaan beruntun dari May malah membuat Sabila makin pusing.

Maya Aprilia ini teman rumah Sabil jadi ia jauh mengenal Sabil sebelum satu sekolah di sana. Meskipun kelas mereka terpisah, Sabil di kelas X MIPA 2, sedangkan May kelas X IPS 2 tapi acara camping ini mereka satu ruangan.

"Iya masih tapi mendingan, kata Ka Fatih gua mau di bawa ke rumah sakit sama yang lain, tabung oksigennya di sini habis," jawab Sabil.

Mendengar jawab Sabil, May mengernyitkan dahinya, "Lah tolol, masa ga ada persiapan sih!?." Suara Maya lumayan nyaring jadi dengan cepat Sabil membekap mulutnya.

Beberapa menit kemudian, Fatih datang dan membantu Sabil untuk ke rumah sakit terdekat. Menjauh dari sepasang mata laki-laki yang sedaritadi memperhatikannya.

Ini adalah pertemuan tak terduga mereka dengan UKS menjadi latarnya. Saat itu, asma membawa mereka pada awal dari segalanya.

BERSAMBUNG.....

Terima kasih yang sudah membaca :)


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Usai Yang Tak Pernah Dimulai

Antara Aku, Kau dan Meikarta

Fabian